Tigerlily'sBook

Daily Blabbers, Travel Stories, Eye Candies, Home Decor Inspirations

Seperti biasa, postingan super telat hehe Bahkan ini lebih parah, telatnya setahun (waks!) >_<
Nggak papa lah ya, daripada nggak diposting sama sekali hehe Anyway, ini tentang sebuah tempat yang lokasinya di daerah Sawangan, Parung. Nama tempatnya Godong Ijo. Dulu sih katanya ini tempatnya enak, asri gitu, dan gak terlalu ramai karena nggak banyak yang tahu keberadaannya. Jadinya suasananya cukup nyaman untuk didatangi.

Akan tetapi ...
Pas saya kesana tahun lalu itu... hmmm... gimana ya, kayanya tempatnya udah berubah deh. Alias nggak kaya dulu lagi. Kebetulan waktu itu saya kesana sama mama saya yang dulunya pernah ke Godong Ijo, dan beliau membenarkan dugaan saya, bahwasanya dulu Godong Ijo tempat yang asri, nyaman untuk dikunjungi. Tapi sekarang udah beda nggak kaya dulu lagi. Sekarang udah nggak nyaman, agak berantakan, dan agak gersang. 


Tempat ini sekarang mostly dipergunakan untuk tempat orang memancing karena ada pemancingan yang lumayan besar, dan juga untuk study tour anak sekolah karena ada satu area besar di bagian depan yang diperuntukkan untuk workshop tanaman. Jadinya ya gitu deh, kebetulan saya datang hari sabtu dan tempatnya ramai sama orang-orang yang mau mancing, plus ditambah dua rombongan bus dari dua sekolah berbeda yang juga datang hari itu. Ramai dan sumpek rasanya hehe

Selain pemancingan yang lumayan besar, di tempat ini juga ada sebuah bangunan untuk restoran. Bangunan restoran ini sebagian besar dindingnya terbuka alias tidak ada dinding di beberapa bagian, di bagian dalam restoran juga terlihat sebagian furniture-nya terbuat dari kayu gelondongan yang diukir jadi meja dan kursi untuk area makan. Di salah satu pojok restoran ada cafe kecil bila kita hanya ingin memesan kopi/teh dan snack saja. Restorannya tidak terlalu besar dan di bagian belakangnya ada halaman kecil dengan kolam ikan.

Restoran ini cuma satu-satunya tempat makan/minum di Godong Ijo, jadi bagi yang memancing di area pemancingan yang letaknya agak jauh dari restoran musti sabar menunggu karena pelayannya musti bolak-balik area pemancingan-restoran yang jaraknya nggak dekat. 


Sebagai satu-satunya restoran di tempat ini jadi otomatis restoran ini pasti ramai pada jam makan siang. Waktu saya kesana di bagian dalam restoran juga kebetulan dipakai untuk acara anak TK (jadi total ada 3 rombongan sekolah berbeda hari itu), jadi ya rame banget bok itu restoran hehe. Kami pun memilih tempat duduk di luar biar nggak terlalu berisik, dan mungkin karena sedang ramai pengunjung yah jadi pelayanannya pun jadi lambat huhuhu..

Satu-satunya tempat yang masih terlihat cantik dan asri cuma di bagian belakang restoran aja. Ada satu area halaman kecil di belakang restoran yang terlihat masih dirawat, lengkap dengan kolam ikan juga. Tapi area ini kecil banget, nggak sebanding dengan total luas area Godong Ijo yang lain yang dibiarkan kurang terawat. 


Di balik halaman belakang restoran saya menemukan ada jalan setapak menuju area lain yang ternyata mengarah ke kandang kura-kura dan kandang iguana. Katanya sih dulu ada kura-kura sejenis kura-kura galapagos yang umurnya udah tua banget, tapi pas saya kesana kayanya udah nggak ada kura-kuranya, apa mungkin sudah mati karena tua. Entahlah... Yang pasti kandangnya nggak terawat dan nggak enak dilihat deh pokoknya :(

Di area samping restoran yang lain ada juga kolam kecil berisi arapaima gigas alias ikan raksasa yang asalnya dari sungai Amazon. Tidak jauh dari kolam ikan tersebut ada kandang di pojok dekat dinding belakang yang isinya ular besar. Saya kurang tau jenis ular apa tapi mungkin sejenis ular sanca besar yang makannya ayam (0_0). 

Ukuran badannya aja segede paha saya deh. Tapi lagi-lagi sangat disayangkan karena baik kandang ular dan kolam ikan arapaima nya nggak terurus banget, jadi kotor dan nggak enak dilihat.

(Kandang iguana. Iguananya ada banyak loh dalam 1 kandang)
(kolam arapaima gigas)
(area samping restoran)
(area belakang restoran)

Tepat di seberang restoan ada area workshop pengenalan tanaman. Bentuknya seperti kebun mini dengan beberapa jenis tanaman, lengkap dengan papan nama berisi info tentang tanaman tersebut. Tapi sangat disayangkan karena area ini terlihat seperti kurang terawat dan hanya seadanya saja. 

Di bagian depan dekat parkiran juga ada area workshop yang lebih luas, tapi sepertinya area ini ditujukan untuk pembibitan dan semacamnya deh. Waktu saya kesana sih area ini kosong melompong, hanya diisi beberapa pot tanaman saja. Padahal kalau lebih dirawat dan dimaksimalkan pasti bisa jauh lebih bagus dan nyaman loh, karena saya lihat potensinya sebenarnya ada hanya saja kurang terawat dan tidak dikembangkan. Mungkin ada yang mau menyuntikkan dana? (;p)

Menurut saya, workshop untuk mengenalkan jenis-jenis tanaman pada anak sebenarnya ide yang bagus, wong saya yang udah segede gaban ini juga mau kok belajar tentang jenis-jenis tanaman untuk sekedar nambah pengetahuan kalau saja tempat dan fasilitasnya menarik dan mendukung untuk belajar. Bayangin, walaupun udah segede gini saya baru tau loh kalo tanaman kumis kucing itu bentuknya bukan tipis-tipis panjang kaya kumis kucing beneran hehe Di bayangan saya selama ini tanaman kumis kucing ya bentuknya persis kaya kumis kucing (;p)

(baru tau kalo kumis kucing tuh kaya gini toh, beda banget sama kumis kucing beneran #bhihik)

Kesimpulannya? 
Well, kalo menurut saya kalau kamu mau kesini mending cari alternatif lain kali ya, kecuali kamu kesini karena mau memancing dengan keluarga, atau mau ikut workshop tanaman hehe Tapi kalau cuma mau mampir sekedar jalan-jalan dan nge-teh sore kaya saya disarankan cari alternatif lain aja. Kalau pemancingannya sih banyak yang bilang lumayan, tapi saran saya kayanya mending bawa makan sendiri dari rumah deh soalnya kalau mau pesan makanan dari pemancingan bisa lama bok datengnya secara jarak pemancingan dan restoran itu nggak deket-deket amat jadi seperti saya bilang tadi, pelayannya musti mondar-mandir dulu (;p)

Oya, untuk pemancingan saya lihat sudah disediakan alat pancing dan umpannya. Saya kurang tau berapa tarif sewanya tapi kayanya nggak mahal-mahal amat sih. Jangan lupa bawa topi dan pake baju tipis aja soalnya panas rek :)


Next upload, saya masih ada utang review jalan-jalan ke Ancol, villa putih Puncak, Universal Studio Singapore yang udah telat setahun (;p). Dan juga review hotel Jayakarta Anyer, Mujigae Korean Resto, dan cerita jalan-jalan ke Museum Geologi Bandung + Dusun Bambu Lembang yang juga udah telat beberapa bulan masih belum diupload jugak (heuhhh..). So please stay tune yah!



Salam ceria! (#apasik?)
Lately I've been enjoying sipping this coffee from Boncafe. Right now there's only a little bit of it left on the bottle because I've been drinking it almost everyday since I got it. 

It is the Boncafe Colombiana coffee blend. I got it in Hypermart Supermarket at Kemang Village. I love shopping my groceries there because the veggies are fresh, the assortment of poultry and seafood are more than adequate, and the variety of products are abundant including lots of imported products such as this Boncafe Colombiana coffee.


It's my first time trying Boncafe brand, and out of all the imported coffee brands on the rack at the time I bought it, the Boncafe was the cheapest one (^o^). So being a frugal-istic lady of course I chose the cheapest one from the expensive range, lol. 

On the bottle it says that it's an imported product from Malaysia, but it is packaged in Germany by special arrangement by Boncafe International, Singapore. So what does it mean? Does it mean that it's a Singaporean company, a German company, or a Malaysian company?

Anyway, there were other blends from Boncafe such as Morning blend, Espresso, etc at the rack but I chose the Colombiana because that's what intrigue me the most. The Colombiana is a Latin American Arabica beans roasted to Full City or medium-dark for a rounded mouth-feel with a slight floral scent and nutty, bittersweet aftertaste.

The real taste was really good. I usually only use 1 teaspoon of this blend, mixed with my usual creamer which is the Nescafe creamer, and one sachet of sugar. I usually only filled my cup with 3/4 of water with any blend of coffee, and I think it works great with this Colombiana blend too.

Overall, it's a really good-tasting coffee. It's definitely thicker than my usual Nescafe ones but it's not too "dark" or too "roasted". I like to have a bit heavier taste for my morning coffee and a lighter one for my afternoon coffee. So this Boncafe Colombiana is perfect for my morning routine. It's slightly nutty and it does have a bittersweet taste to it which I love. If you prefer your coffee "dark" and bitter you might skip the creamer and just add sugar instead ;)

I would love to buy this again and I'm also recommending this to everyone who loves to try new coffee. I would also love to try another variant from Boncafe in the future :)


Coffeeholic Unite!
 
(pic source: Arion Swiss-Belhotel website)

Bulan Juni lalu kebetulan adik saya menikah (!) dan wedding reception-nya diadakan di Arion Swiss-Belhotel Kemang, Jakarta. Pada saat hari H acara pernikahan berlangsung kebetulan kami mendapatkan free room untuk keluarga selain free room untuk kamar pengantin. 

Side note: beberapa bulan sebelumnya saya pergi ke Anyer dan menginap di hotel Jayakarta tapi sayangnya karena waktu itu kita menginap ramai-ramai dengan keluarga besar jadi saya nggak sempat foto ruangan bungalow-nya karena keburu penuh sama saudara lain yang kebetulan sudah datang duluan hehe Nah begitu juga dengan review kamar hotel satu ini. Berhubung saat itu keburu ribet sama urusan wedding dan akad nikah jadinya boro-boro sempet foto-foto kamar hihihi Apalagi kamar saya juga dijadikan base camp untuk keluarga inti berkumpul, jadinya ya gini deh.. fotonya pas kamarnya udah berantakan hehehe (;p)


Anyway, saat itu kami mendapatkan kamar tipe Deluxe dengan luas kamar yang lumayan lapang dan dilengkapi amenities seperti meja console TV, deposit box, coffee & tea maker, mini bar, dan free internet access (yang sayangnya nggak sempat saya cobain huhuhu). Juga tersedia laundry bag, meja + kursi duduk, dan kamar mandi yang luas dan lengkap dengan hair dryer, hot/cold water, etc.

Nuansa kamarnya hangat dengan interior warna kayu dan penataan ruang yang baik, kalau malam kamarnya jadi terasa sangat nyaman dan homey karena efek penempatan lighting-nya yang oke. Kebetulan saat itu kami mendapat kamar yang langsung menghadap ke depan hotel yaitu ke arah jalan raya Kemang. Suasana jalan raya yang ramai tidak sampai mengganggu kenyamanan kami di dalam kamar, so it's a plus point!

(view dari kamar saya)
(menu sarapan ronde satu)

Untuk sarapan pagi dilaksanakan di area lounge lantai 2. Tempatnya bersih dan nyaman, kami pun memilih duduk di depan jendela besar yang menghadap jalan raya, sementara adik saya "si pengantin baru" memilih duduk di area teras luar karena ingin merokok. Pilihan makanan untuk sarapannya lumayan banyak dan lengkap. Saya sempat kehabisan kopi dan gelas sih, dan agak lama menunggu sampai ada petugas yang datang mengisi refill. Tapi untuk kualitas rasa makanan yang dihidangkan oke lah :)

Selesai makan kami memutuskan untuk naik keatas melihat area kolam renang. Sebenarnya pengen banget berenang karena kolamnya keliatan enak banget, suasana outdoor di lantai atas, dan sepi pula. Tapi sayangya saya keburu dapat panggilan dari mama saya dan dapat tugas untuk segera beli nasi padang untuk saudara-saudara yang menginap di rumah mama (^o^). So nggak jadi berenang deh ... hihihi..


Untuk sekedar nongkrong-nongkrong sih enak juga di pinggir kolam renang (kalau lagi sepi ya). Kolam nya tidak begitu besar tapi lumayan lahhh... kayanya asik juga..

Tepat di sebelah kolam renang ada fitness centre dengan dinding kaca besar yang menghadap area kolam renang. Fitness centre nya nggak begitu besar tapi nampaknya peralatannya cukup banyak dan lengkap.

(Tangga dari arah kolam renang menuju pintu gedung. Yang di sebelah kiri itu fitness centre nya)
(fitness centre)

Sekian review singkat dan padat saya kali ini. Maklum, soalnya nginepnya bisa dibilang cuma "numpang tidur" aja hehe Jadi nggak banyak detil yang bisa direview kali ini. Otherwise, hotel ini oke juga untuk alternatif menginap di tengah kota. Lokasinya strategis, di sekitarnya banyak restoran dan kafe yang bisa dikunjungi hanya dengan berjalan kaki. Lokasinya dekat sekali dengan McD Kemang. Untuk info detilnya bisa langsung dilihat di website-nya di bawah ini ya :


Arion Swiss-Belhotel Kemang
Jl. Kemang Raya No.7
Jakarta Selatan





 Have A Great Weekend!
Nyapu-nyapu blog dulu aahhh... Debuan banget nih kayanya, kelamaan ditinggal (>_<) ...

Sebenernya banyak banget postingan yang ketinggalan, tapi upload nya nanti deh satu-satu.. Meanwhile, sekarang mau upload yang masih fresh di ingatan aja alias review hotel yang diinepin pas Lebaran kemaren (;p).

I know it's late to post this karena lebaran udah kelar dari bulan lalu, tapiiii.... dari pada nggak di publish sayang juga udah foto-foto hehe Jadi gapapa lah ya, better late than never hehe.. Siapa tahu berguna buat yang kebetulan lagi cari review karena mau nginep di hotel yang sama ;)

Jadi, lebaran kemarin saya dan suami berangkat ke Bandung sehari sebelum hari H, untuk berlebaran dengan keluarga besar suami yang memang tinggal di Bandung. Lalu pada hari H Lebaran - sorenya kita pulang lagi ke Jakarta untuk ngejar ketemu sama keluarga saya yang ngumpul di rumah mama. Dan pas malam takbiran itu kebetulan kami sekeluarga menginap di Savoy Homann Hotel.


 Savoy Homann dulu ...
(pic credit from klikhotel.com)

Savoy Homann sekarang ...
(pic credit from Indonesia-Tourism.com)

Alhamdulillah saya bisa punya kesempatan untuk menginap di hotel yang penuh history ini, karena kebetulan saya memang seneng banget sejarah jadi apapun yang ada unsur historisnya pasti sangat menarik untuk saya. Jadi pas tau kalau kita mau menginap di Savoy Homann saya udah seneng banget, penasaran nginap di kamar yang umurnya mungkin udah puluhan atau bahkan ratusan tahun. 

Untuk tau sejarah singkat tentang hotel Savoy Homann, bisa lihat video di bawah ini. Lumayan untuk nambah pengetahuan sejarah karena diceritakan dari awal banget berdirinya hotel ini yang mana waktu itu bentuknya masih seperti losmen belanda :)



Keren yah, siapa sangka kalau Charlie Chaplin dan Mary Pickford pernah menginap di Savoy Homann lho.. Raja Siam juga pernah! Mereka menginap di kamar yang mana yah? (^_^)


Sebelumnya saya pernah juga sih ke Savoy Homann tapi cuma untuk numpang makan doang di Garden Restaurant yang populer dengan menu sarapan-nya itu hehe Walau nggak nginep di hotel-nya kita bisa kok ikut sarapan di Garden Restaurant dengan membayar cover charge di muka.
 
Anyway, waktu kami menginap disana saya dan suami beruntung sekali dapat kamar di bagian yang dindingnya melengkung, jadi nggak kotak seperti ruangan kamar hotel biasanya. Kelihatan kan dari foto diatas ada bagian bangunan yang bentuknya melengkung setengah lingkaran ;) 

Waktu pertama masuk kaget juga karena kamarnya luas banget untuk ukuran kamar hotel. Kayanya sih kamar kita tertukar sama punya mertua deh (;p) Harusnya kayanya mertua saya yang dapat kamar luas tersebut, tapi karena saya dan suami paling telat datangnya, jadi sampai di hotel langsung masuk kamar dan nggak begitu ngeh sama situasinya, kirain semua anggota keluarga dapat kamar yang sama. Pas paginya baru kita sadar kalau kayanya kamar kita tertukar sama kamar mertua deh hehe


Tapi saya merasa beruntung sekali bisa ngerasain tidur di kamar dengan bentuk unik seperti ini. Karena kebetulan saya juga senang arsitektur jadi bagi saya kamar ini lumayan unik. Dindingnya melengkung mengikuti bentuk bangunan. 

Kamarnya juga luas dan panjang, dengan amenities lengkap seperti meja/kursi, meja rias besar, meja tv, lemari, kamar mandi lengkap dengan area vanity nya yang bersih dan dilengkapi dengan cermin seluruh badan (penting! hihihi). Tempat tidurnya sendiri sebenarnya kecil karena letaknya di salah satu sudut kamar, tapi area tengah kamarnya lumayan luas. Kayanya kalau mau nambah 2 extra bed juga masih lega deh :)


Yang saya suka selain bentuk ruangannya yang unik, juga dindingnya yang dipenuhi kaca besar. Jadi kamarnya terang dan banyak cahaya yang masuk. Kamarnya 90% full karpet dengan interior kayu yang bikin suasana hangat walaupun AC nya dingin. Kamar mandi nya tidak terlalu besar tapi cukup banget lah dengan bath tub / shower air hangat dll. 

Karena waktu yang sempit saya dan suami nggak bisa muter-muter liat suasana sekeliling hotel, tapi pas mau turun pakai tangga ke lantai bawah kita sempat nyasar ke selasar yang lumayan oke buat spot foto hihihi Dari selasar ini juga kita bisa melihat Garden Restaurant atau "Palm Court" yang indah dilihat dari atas.

 Itu yang di seberang sana adalah jendela kamar hotel. Seru juga kali ya kalau dapet kamar yang jendela nya menghadap indoor seperti ini :)


Sarapan pagi seperti biasa dilakukan di Garden Restaurant yang lokasinya ada di tengah-tengah hotel dengan suasana seperti layaknya di sebuah garden. Lengkap dengan pohon palem tinggi dan high ceiling serta jendela-jendela kaca besar di bagian atas yang membuat suasana sarapan sangat nyaman. Mungkin dulunya terinspirasi sama The Palm Court di Plaza Hotel New York yang legendaris itu. Either way, sarapan disini adalah favorit kami. Menu sarapannya banyak, including international food dan juga traditional food seperti ubi rebus, pisang rebus, kacang dll ;)

Karena waktu itu pas hari raya Lebaran jadi restaurant-nya lumayan ramai. Makanan juga sempat habis dan service agak sedikit lambat, tapi maklum lah ya, namanya juga lagi hari raya, mungkin jumlah staff nya juga nggak banyak, tapi kalau sabar menunggu nggak lama kemudian segera di-restock kembali kok makanannya.

Garden Restauran in the afternoon
(pic credit from website Savoy Homann)


Selepas sarapan kami pun segera bergegas ke kamar untuk packing dan siap-siap check out. Tak lupa diiringi doa semoga bisa menginap disini lagi lain kali ;)


 Ada yang sudah pernah menginap di Savoy Homann? Gimana ceritanya?



For more info on room rates and hotel facility :
The Savoy Homann Hotel 
Web: http://savoyhomann-hotel.com
Jalan Asia Afrika No. 112
Bandung 40261
West Java - Indonesia

Tel: +62-22-4232244 Fax: +62-22-4236187 
Email: info@savoyhomann-hotel.com



Happy Vacation-ing!
Ini post ketinggalan yang harusnya saya upload akhir tahun lalu (waks!) - as part of my Short Getaway to Puncak series - yang saya upload di blog ini sekitar akhir tahun lalu. Kalau mau mengikuti kisah liburan singkat saya ke Puncak atau mau lihat itinerary saya selama 2 hari di Puncak untuk bahan inspirasi travel kalian, bisa KLIK DISINI untuk lihat itinerary-nya sekaligus link review tempat-tempat yang saya datangi selama di Puncak.

Di itinerary saya, Puncak Pass Resort & Restaurant ini adalah tempat wisata terakhir yang kami kunjungi sebelum pulang ke Jakarta. Setelah check out dari hotel dan mampir sebentar ke Little Venice, kami melanjutkan perjalanan pulang ke arah Jakarta dan berhenti sejenak di Puncak Pass Resort & Restaurant untuk makan siang.


Sama seperti restoran Rindu Alam yang selalu bikin nostalgia, restoran Puncak Pass ini juga menjadi nostalgia tersendiri bagi saya. Dulu waktu kecil kalau diajak ortu ke Puncak pasti mampir ke Puncak Pass ini. Saya ingat jaman dulu area Puncak Pass ini masih dingin banget dan berkabut banget, tapi sekarang (mungkin karena efek pemanasan global) suasana di Puncak Pass rasanya tidak sedingin dulu. Tapi udaranya tetap terasa segar dan sejuk, apalagi kalau kita pilih duduk di bagian luar / teras.

Ya, Puncak Pass Resort & Restaurant ini sesuai namanya terdiri dari Resort (yang berupa bungalow berbagai tipe) dan Restaurant yang berada di mulut gerbang masuk. Puncak Pass ini dulu iconic banget, bisa dibilang sebagai icon nya Puncak karena terletak di area tertinggi Puncak dan sudah berdiri sejak tahun 1928.

Pertama didirikan oleh seorang meneer Belanda bernama Meneer Colijn sebagai sebuah restoran dengan 4 buah bungalow. Kemudian tempat ini berganti kepemilikan dan namanya pun berubah menjadi Puncak Pass. Setelah itu tempat ini pun berkembang dengan menambah jumlah bungalow dan kamar untuk menginap sehingga seperti sekarang ini.


Restorannya sendiri masih sama seperti dulu ketika waktu kecil saya sering dibawa kesini oleh orangtua saya. Mungkin ada sedikit perubahan seperti pada atap teras namun secara keseluruhan tempat ini masih terlihat sama, dan mudah-mudahan pihak manajemen akan terus mempertahankan warisan tempo doeloe yang menjadi salah satu daya tarik di tempat ini.

Area restoran terdiri dari :
(1) Area outdoor / teras dengan pemandangan terbuka ke arah bukit dan kota Puncak di bawah sana,
(2) Area indoor Lantai 1 yang sejajar dengan area teras (yang lebih hangat dengan interior serba kayu lengkap dengan sebuah perapian besar),
(3) Area indoor Lantai Dasar yang terletak satu lantai di bawah lantai 1, lengkap dengan jendela-jendela besar yang memberikan pemandangan indah dan kursi-kursi kayu hangat yang bikin betah.

(view dari bagian teras/outdoor)
(bagian teras/outdoor)
(view dari area indoor lt.1)
(area indoor Lt.1)
(area indoor Lt.1 - perfect for afternoon coffee/tea)
(area indoor Lt.Dasar)

Waktu itu kami memilih untuk makan di area indoor lantai 1 karena kebetulan ada spot kosong tepat di sebelah jendela. Dari balik jendela besar kami bisa melihat pemandangan Puncak yang berbukit-bukit hijau dengan kepadatan kota di bawah sana. Dari jendela tersebut juga masih terlihat genteng jadul yang digunakan restoran ini masih sama persis seperti yang saya ingat dulu. Benar-benar brings back memories... (*OhI'mSoOld*).

Hubby K memesan paket komplit nasi timbel, sementara saya si gila pizza tergoda dengan pilihan pizza-nya yang termasuk salah satu yang direkomendasi di buku menu-nya. Tak lupa kami pun memesan salah satu menu andalan Puncak Pass Restaurant yang sudah beken dari jaman dulu yaitu: Poffertjes!

Paket nasi timbel porsinya lumayan besar, berhasil bikin kenyang hubby. Pizza-nya juga sangat menggugah selera dan rasanya enak, pas di lidah saya. Poffertjes nya jangan ditanya lagi, rasanya saya pengen nambah kalau saat itu belum kekenyangan banget hehe

(hubby & nasi timbel nya)

Setelah selesai makan, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area Puncak Pass untuk melihat-lihat. Kebetulan sebelum memutuskan untuk menginap di Novus Giri saya juga mempertimbangkan untuk menginap di Puncak Pass ini karena terpincut oleh bungalow-nya yang seakan terinspirasi dari rumah kayu di pegunungan Eropa itu. Jadi saya penasaran pengen lihat aslinya dulu, lumayan lah itung-itung survey tempat dulu hehe

Puncak Pass Resort memiliki berbagai varian tipe kamar atau bungalow/villa yang tersebar di area nya yang luas dan berbukit-bukit. Ada yang tipe kamar hotel yang letaknya kalau tidak salah menyatu dengan restoran / bangunan utama. Tipe kamar hotel ini sudah direnovasi jadi nggak perlu takut suasana jadul, konsep nya udah modern banget (bisa lihat di website nya disini). Ada pula kamar yang dilengkapi teras balkon dimana kita bisa keluar ke balkon dan menghirup udara segar.

Kemudian ada tipe kamar bungalow yang terdiri dari kamar bungalow deluxe dengan teras kecil di depan pintu kamar. Ada juga tipe bungalow executive, jadi kamarnya lebih besar/panjang dan fasilitasnya lebih lengkap dengan ruang duduk kecil di dalamnya. Selain itu juga ada tipe family bungalow yang tentunya lebih besar dengan dua kamar tidur dan area makan. Untuk semua tipe bungalow memiliki perapian kecil di dalam ruangan.


Terakhir adalah tipe Bungalow Suite yang juga terdiri dari beberapa tipe, diantaranya adalah tipe Bungalow Studio Suite yang diperuntukkan untuk keluarga karena terdiri dari dua kamar tidur dan dua kamar mandi. Untuk keluarga yang lebih besar ada tipe Bungalow Family Suite dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi.

Saya paling naksir sih sama yang bungalow bergaya rumah jadul ala rumah-rumah di pegunungan eropa seperti foto di bawah ini nih hehe Soalnya unik banget sih dan kebetulan saya seneng yang klasik-klasik gitu ...


Kelemahannya mungkin letak kolam renang nya yang agak jauh di bawah, jadi untuk sebagian kamar kalau mau ke kolam renang musti jalan dulu agak jauh. Sementara  untuk kelebihannya, selain posisi resort yang berada di titik atas area Puncak dengan suasana yang dingin, juga pemandangannya yang indah ke arah bawah pegunungan. Ditambah area sekeliling resort yang sangat hijau dan rimbun dengan tanaman dan pepohonan, rasanya berjalan pagi atau jalan kaki sore-sore mengelilingi resort akan sangat terasa menyenangkan.

Untuk informasi lebih detil dan lebih lengkap mengenai rate kamar dan lain-lain silakan mengunjungi website resmi-nya disini ya, karena kemarin saya nggak nanya-nanya sama orang hotel melainkan hanya jalan muter-muter resort aja untuk tau suasananya.


Overall, in the future saya punya rencana untuk menginap disini karena suasana resortnya yang asri dan menyejukkan. Eh tapi, barusan saya lihat di website-nya kok sepertinya resort-nya akan direnovasi ya? huhuhu... Semoga setelah di-renov, bungalow jadul favorit saya masih tetap dipertahankan...

Oya, untuk restorannya sih udah pasti saya rekomen banget :) Kalau belum pernah kesini kudu wajib harus mampir, karena tempat ini iconic banget hehe Harga makanannya pun masih lumayan terjangkau lah, apalagi kalau cuma ingin mencicipi poffertjes nya sambil minum teh hangat di teras restoran :)

Selamat jalan-jalan ya !



Puncak Pass Resort
Jl. Raya Puncak Km 90 Po Box 18,
Sindanglaya, Cianjur 43253,
West Java – Indonesia.
Phone (0263) 512503 / 512504




Dapet salam dari si gadis garis-garis :)




Untuk melihat tempat apa saja yang saya kunjungi selama 2 days Puncak Getaway, 
klik DISINI.



Happy Vacation-ing!

Daily Blabbers, Travel Stories, Eye Candies, Home Decor Inspirations

Powered by Blogger.