Showing posts with label Where To Eat. Show all posts
Showing posts with label Where To Eat. Show all posts

Restaurant : The Garden at PIK

Thursday, July 4, 2019



Setelah sekian lama, finally back with a restaurant review!

Ini sebenernya bukan resto baru sik, tapi ada cabangnya yang baru buka di PIM. Etapi ini review gue bukan buat yang cabang PIM yah melainkan review yang cabang originalnya di daerah PIK alias Pantai Indah Kapuk.

Yap, waktu itu bela belain jauh jauh ke PIK cuma karena pengen ke resto ini yang foto fotonya gue liat ber-sliweran di IG. Secara demen kebun-kebun warna warni gitu jadi akhirnya melipir lah ke PIK pada suatu hari Minggu, sekalian seharian itu explore resto dan cafe lucu lainnya juga di PIK, daerah yang paling jarang dikunjungi secara jauuuh dari rumah. Awalnya pas liat di foto orang orang kirain lokasinya dimana gitu, nggak taunya ini lokasinya di area ruko gitu loh, nggak nyangka kan? Ruko yang udah dirombak sih tepatnya.

Anyway, dari pas jalan masuk ke ruko restorannya aja udah bagus sih, udah full "garden vibes" gitu, udah ijo ijo sana sini, dan pas sebelum pintu masuk bakal disambut sama photo spot seperti foto diatas itu :)



Pas gue kesana sih tempatnya masih rame ya, padahal itu baru sekitar jam 10-11an dan udah rame aja dong di dalem orang orang udah pada makan, bahkan banyak yang udah reserve duluan. Karena kita nggak reserve (karena nggak nyangka bakal serame itu) jadi kita daftar dulu di reception desk dan lalu disuruh tunggu sampai namanya dipanggil. Di belakang kita juga masih banyak lagi yang antri.

Tapi nggak lama kemudian nama kita pun dipanggil, dan karena saat itu lagi ramai dan peak hours jadi kita diberitahu ada pembatasan jam untuk dining di dalam, kita diberi waktu sekitar 1.5 jam setelah dapat meja, jadi udah pasti nggak bisa ngobrol lama lama sehabis makan karena musti gantian juga dong sama yang lainnya yang belum dapat meja. It's okay lah, wajar kok untuk tempat yang ramai peminat seperti ini, dan 1.5 jam gue rasa cukup banget untuk makan dan minum di dalem. 

Pas pertama masuk ke dalam udah langsung berdecak kagum karena dekornya emang sebagus ituuuu.... Full colors, warna warni banget dengan tema kebun bunga yang cantik sekali. Area tempat duduknya banyak sampai ke belakang ternyata masih luas, dan jangan khawatir nggak kebagian spot keren buat foto karena dekornya detil banget sampai ke semua seating area nya pun nggak ketinggalan di dekor cantik.




Langsung bikin suasana beda dan happy kalo makan disini. Even area bar nya juga didekor keren banget pakai permainan lampu segala. Dan untuk The Garden yang lokasi di PIM dekorasinya juga sama lho sama yang di PIK ini. Kedua lokasi dekornya very very similar, dua duanya bagus dan detil bangetttt...

Oya, di dalam The Garden yang lokasi PIK ini selain restoran ternyata ada area lagi di lantai bawah (downstairs) yang jadi semacam "hidden basement" gitu ceritanya. Namanya "Secret Garden", dan ini khusus hidden bar gitu.


Overall sih enjoy banget makan disini. Dari dekornya yang vibrant dan super detil, penampilan menu card nya sampai presentasi makanan-nya semuanya detil banget dan very very pleasing to the eyes. Mata kita bakal dimanjain banget sama keindahan disini.

Yang paling penting makanannya juga enak endeuss surendeuss, even yang cuma light food bangsa salad salad gitu aja juga udah enak banget. Paling suka ama mejanya yang dari kaya ubin keramik kotak kotak kecil gituuu (liat foto dibawah)... Aesthetic banget! (ceileh). Hubby K even said that this is his favorite decor in a restaurant out of all the places we visited so far!




Berikut contoh harga makanannya ya :

- Badass Fried Rice (porsinya lumayan gede) : Rp 90,000
- Kale Me Salad (porsinya gede kaya main course) : Rp 65,000
- Peach Ice Tea (gelas besar) : Rp 35,000
- Trust Me Berries Good (jus berries gitu, enak!) : Rp 50,000

{belum termasuk pajak yak ini}
-----------------------------------------------

The story behind this visit adalah : Setelah bela belain jauh jauh ke PIK demi kesini, eh nggak taunya seminggu kemudian The Garden ini buka cabang dong di PIM, yang mana lebih deket banget sama rumah. Tau gitu kan ga usah jauh jauh ke PIK yak, mending nunggu seminggu lagi aja hehe

Etapi kalo nggak gitu nggak bakalan explore PIK nyobain Soedoet Tjerita deh,  si Cafe ala ala Santorini (next review, stay tune and subscribed!). 😀




(dapet salam dari garden gnome 😛)




The Garden - PIK
Rukan Garden House, 
Jl. Pantai Indah Kapuk No.28, 
Kapuk Muara, Penjaringan, Jkt Utara






Selamat Ber-kuliner!

A Day Trip to Puncak + Mini Review: Raffles Restaurant - Cisarua

Monday, January 18, 2016

Hey Ho ... !
There's been a long absent here on this blog. I've been busy with my main blog Two Thousand Things BUT I promised to myself to be more diligent on writing in this blog so let's hope I can keep up with my promise ya.. hehe

So anyway, dalam dua bulan terakhir ini saya dan keluarga besar saya sempat dua kali menginap di Puncak. Yang pertama waktu bulan November akhir - awal Desember, dimana kami sekeluarga besar menginap di sebuah Villa di area Puncak. Lalu yang kedua kalinya pada awal Januari kemarin (tgl 2-3) dimana kami menginap di tempat lainnya yaitu Camp Hulu Cai (review menyusul).

Sebelumnya, seperti biasa beberapa orang dari kami pergi survey dulu untuk mencari tempat yang akan kami inapi, yang sekiranya dapat menampung keluarga besar kami yang jumlahnya sekitar 20-30 orang. Nah, post kali ini akan bercerita tentang hari saat kami pergi survey sekaligus leisure kecil ke Puncak (^_^).


Tim survey saat itu ada 6 orang, yaitu saya + suami, dan 3 orang sepupu, juga salah satu om saya. Sebelumnya kami sudah menghubungi orang yang bisa membantu mencarikan villa untuk kami, sehingga saat sampai di Puncak kami nggak perlu mencari-cari villa satu-persatu lagi. Jadi hari itu ketika sampai di Puncak kami langsung menuju ke villa pertama yang ditunjukkan oleh guide/penghubung/(bahasa keren-nya "broker") kami saat itu ;p.

Villa pertama yang ditunjukkan kepada kami sebenarnya oke bingits. Halamannya luas, kolam renangnya keren banget dengan view yang juga menawan. Plus lahan parkirnya pun luas (penting nih mengingat kami keluarga besar yang pastinya akan membawa banyak kendaraan). Saya dan sepupu2 udah naksir banget sama kolam renangnya yang asik, tapi sayangnya villa nya terbagi menjadi dua bangunan dan makanan pun harus catering dari penjaga villa (dan harga catering-nya lumayan sih dihitung per-kepala).

(kolam renang yang pewe banget)


Lalu kami ditunjukkan ke villa kedua. Jalannya lebih masuk lagi ke daerah pemukiman warga, tapi villa nya cucok banget deh. Walaupun bangunannya jauh lebih kecil daripada villa yang pertama tadi tapi fasilitasnya lumayan oke. View-nya juga bagus, pemandangan hijau dimana-mana. Ada lapangan yang lumayan bisa buat main bola. Ada meja pingpong, ada kolam renang (yang nggak kalah asik sama villa pertama), dan ada area mainan anak seperti ayunan dan jungkat jungkit.

Di belakang villa juga masih ada jalan setapak dengan menyusuri tangga yang menuju ke arah bawah villa yang berbukit. Disitu ada gazebo kecil yang nampak oke buat pojok curhat (hehe), dan kalau ke bawah lagi mengikuti tangga sepertinya akan mengarah ke kali/sungai kecil => (kalau nggak salah sih gitu, soalnya saya nggak ikut turun waktu itu).

Kalau kata mbak yang ngurus villa-nya, artis BCL juga suka nginep di villa ini. Kata dia lho yaa.. hihihi.. Ruangan dalamnya sih nggak besar ya, tapi lumayan lah bisa nampung sekitar 20 orang. Sebagian tidur di kamar dan sebagian lagi bisa ngampar di ruang tengah (extra bed disediakan oleh pihak villa). Malamnya di teras belakang kami menyewa organ tunggal yang main sampai jam 12 malam ;p




Setelah melihat villa kedua ini kami sepakat untuk menyewa villa tersebut untuk liburan keluarga di bulan November/Desember. Nama villa-nya: Villa Eyang. Saya paling suka spot teras samping yang menghadap ke hutan pepohonan hijau, dan juga spot favorit duduk di kursi panjang bale-bale di teras belakang yang menghadap kolam renang dan pemandangan bukit nun jauh disana.

Setelah urusan villa selesai kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil makan siang di Restaurant Raffles yang terletak di pinggir jalan raya Puncak/Cisarua. Saya sering berhenti makan di Puncak (di berbagai restoran) tapi baru kali ini makan di restaurant Raffles. Bangunan-nya besar kok, pasti keliatan di pinggir jalan. Kalau dari arah Jakarta restoran ini letaknya di sebelah kiri jalan.

Begitu masuk ke restoran ini langsung nampak bahwa restoran ini luas sekali sampai ke belakang. Area duduk terbagi menjadi beberapa tempat. Ada yang di bagian depan, di ruangan kecil di bagian tengah, dan di area joglo terbuka di bagian belakang. Ada juga yang model lesehan. 

Kalau area duduk yang di bagian depan sepertinya lebih cocok untuk area ngopi-ngopi atau makan ringan ya. Saat itu kami memilih untuk duduk di area joglo terbuka di bagian belakang. Oya restoran ini juga dilengkapi dengan area main anak (walaupun seadanya) seperti patung jerapah, istana super mini, dan perosotan seadanya.


Menu makanannya khas restoran sunda : ada ayam goreng, tumis kangkung, sayur lodeh, ikan gurame, dan lain sebagainya. Kalau nggak salah ada sate juga deh. Untuk makanan pembuka ada otak-otak enak yang besar-besar. Semua rasa makanannya enak-enak sih. Porsinya nggak begitu besar jadi kudu pesan agak banyak kalau yang makan juga banyak. Overall, lumayan recommended lah.

Setelah selesai makan dan sambil on the way pulang ke Jakarta, kami menyempatkan mampir ke salah satu spot impian kami yaitu Camp Hulu Cai. Jadi sebelumnya, sepupu saya sudah pernah survey sampai ke Camp Hulu Cai ini dan semuanya langsung jatuh cinta sama tempat ini. Sayangnya tempat ini selalu full booked terutama untuk weekend. Waktu itu kami bahkan harus memesan dua bulan di muka!

Karena penasaran kami pun mampir lagi ke Camp Hulu Cai ini sekalian niatnya mau ngopi sore sebelum pulang ke Jakarta. Kebetulan saat itu cuaca lagi mendung jadi sepertinya asik banget ngopi pas dingin-dingin gini. Dan di Hulu Cai ini ada semacam area cafe pakai tenda besar di bawah naungan pohon-pohon rimbun yang asik banget buat ngupi dan ngeteh sore sambil makan gorengan (^o^).



Ini tempat emang keren abis.
Lokasi Camp Hulu Cai berada di daerah Ciawi / deket Tapos situ, jadi belum sampai ke Puncak, masih di bawah lah letaknya so nggak terlalu jauh dan lumayan gak harus macet-macet dulu di jalan raya Puncak. 

Area-nya sendiri luas banget, mungkin seluas satu buah desa kecil kayanya saking luasnya. Kalau mau kemana-mana kudu naik mobil wara-wiri / kendaraan yang disediakan oleh pihak Camp. Di Camp Hulu Cai ini enaknya suasananya masih hutan banget dan rimbun sama pohon-pohon lebat dan tumbuhan hijau dimana-mana. Saya kan "anak hutan" alias lebih demen ke hutan daripada ke pantai, jadi pas ngeliat Camp Hulu Cai ini langsung naksir berattt...!

Tempat ini rupanya langganan outbound / outing kantor karena fasilitasnya memang lebih spesifik untuk grup. Kalau outing disini enak banget, tidurnya di kamar besar dengan bunk bed kaya di cabin. Trus outbound nya lengkap dari mini rafting, flying fox, rappeling, dll - semuanya dilakukan di dalam area Camp Hulu Cai. Bayangin gedenya kaya apa hehe..



Untuk cerita lengkap dan review Camp Hulu Cai ini nanti akan saya tulis di post selanjutnya biar lebih detail karena fotonya banyak banget hihihi Jadi nantikan post saya selanjutnya yaa :)

Meanwhile, saya harus udahan dulu nih sekarang karena kudu masak buat makan siang dulu nih. Laper cyinnn...

See you on my next post ya !


 PS: Dapet salam dari ikan koi ;)



-XoXo-
 

#CafeHunter : Bangi Kopitiam (Sabang)

Friday, October 9, 2015

Dua minggu lalu sehabis menghadiri beauty event di Hotel Pullman - Thamrin Jakarta, saya pun mengajak hubby K untuk explore kuliner di Jl. Sabang yang kebetulan dekat lokasinya sama hotel Pullman. 

Dulu waktu kecil, berhubung saya pernah tinggal di Setiabudi, saya sering diajak papa saya makan di Sabang sekeluarga. Apalagi saat itu Jl. Sabang lagi ngetop-ngetopnya sebagai salah satu pusat jajan dan area "nongkrong" jaman baheula hehe.. Sering juga papa saya pulang ke rumah bawa sate Sabang yang terkenal itu. Tapi kalau sekarang sih karena melihat tempat sate-nya di pinggir jalan raya banget (yang semakin banyak polusi-nya dibanding bertahun-tahun lalu), saya jadi agak risih kalau mau beli sate sabang lagi.

Anyway, sebenarnya tadinya hubby K ngajakin makan di Cafe Pisa yang letaknya persis di belakang Sarinah Thamrin. Dulu ini juga termasuk tempat makan yang laris dikunjungi - sebelum banyak bermunculan cafe-cafe lucu seperti sekarang ini. Dulu juga jaman pacaran kita pernah nge-date makan disitu beberapa kali. Mungkin kemarin K mau nostalgia ngajakin makan di Kafe Pisa lagi (hihihi), tapi sayangnya gagal karena terbentur oleh faktor rame-nya kafe pisa saat itu. Sepertinya sih gara-gara sedang ada acara di sekolah yang terletak persis di depan Kafe Pisa itu, jadinya banyak orangtua murid beserta sanak saudara yang mampir ke Kafe. Jadi ilfil duluan ah lihat keramaian kafe, jadi akhirnya batal ke Kafe Pisa, dan muncul ide untuk melipir ke Sabang aja :)


Setelah muterin Jl. Sabang akhirnya saya ajak K ke salah satu kopitiam yang tempatnya sepertinya terlihat menarik. Lagipula parkirnya gampang, secara parkir di Sabang kudu rebutan ( mana mahal pulak parkir-nya, ishhh... ). Oya, nama tempatnya: Bangi Kopitiam.

Dari luar sih terlihat seperti bangunan biasa, tapi pas masuk ke dalam interiornya lumayan bikin nyaman. Apalagi sifatnya semi terbuka, dan ada area lantai 1 dan 2 yang berkonsep semi outdoor karena dindingnya terbuka sebagian. Ada juga area non smoking, tapi kayanya kurang enak deh soalnya nggak ada view-nya, dan sempit ruangannya. Mending pilih yang area smoking, karena walaupun untuk area merokok tapi karena konsepnya semi-terbuka jadi aliran udaranya lancar dan tidak terganggu asap rokok dari meja lainnya. 

Ini pertama kalinya saya ke Bangi Kopitiam. Dan kopitiam ini aslinya dari Malaysia. Menunya lumayan banyak: dari mulai aneka kopi-kopian, aneka fresh drinks, cemilan seperti kaya toast, roti canai, breakfast dish; juga berbagai makanan berat tersedia di menu. 

click photo to enlarge

Sebagai penggemar sejarah saya suka Bangi Kopitiam ini karena konsepnya banyak mengandung nilai historis. Dari mulai sejarah berdirinya Bangi Kopitiam yang dilandasi warisan masa lampau, juga menu "makanan klasik" yang dilengkapi dengan cerita masa kecil di balik setiap menu-nya.

Tempatnya nyaman, dan semakin malam semakin ramai oleh pengunjung yang datang, jadi saran saya lebih baik datang kesini sebelum jam makan malam resmi dimulai, supaya bisa pilih spot tempat duduk yang paling enak.

Interior-nya seperti yang saya sudah sebut diatas - nyaman dan comfy. Pas banget buat nongkrong cantik atau breakfast/brunch - karena banyak menu ringan yang bisa dipilih untuk sarapan maupun ngemil teman minum kopi. Pelayanan lumayan oke karena waiter/ss nya banyak dan cukup ramah serta sigap.

Buat yang senang kopi-kopian disini puas deh, ada banyak banget pilihan kopi yang bisa dipilih dari menu-nya. Berbagai macam pilihan minuman lainnya juga tersedia. Semuanya khas melayu banget, jadi lumayan jadi alternatif pengganti starbucks, coffeebean, dan sejenisnya :)



Untuk makanannya, saat itu saya memesan Sup Wonton Mee dengan Pangsit Udang (Rp 38,000), serta segelas Teh O Ais (Rp 12,000) alias Ice Tea hehe. Hubby K memesan Mee Wonton (Rp 38,000) yang disajikan dengan semangkuk kecil sup pangsit udang. Jadi sebenarnya menu kita berdua sama ya, bedanya saya pesan yang sup, sementara hubby K pesan yang versi "goreng" dengan sup kuah terpisah ;p

Mie-nya uenakk bangett. Dua-duanya enak. Porsinya lumayan lah ya. Dan kuah-nya segar dan gurih banget. Sayurannya pun segar dan penataan makanan-nya cantik menggugah selera. Pangsit udangnya pun lembut tapi gurih. Cocok lah pokoknya untuk selera saya dan hubby. Rasanya melayu bingit kak !

Oya, karena betah nongkrong di Bangi akhirnya setelah makan kami masih memesan menu lain untuk teman mengobrol, yaitu seporsi roti canai kari (Rp 28,000) dan sepiring Melacca Portuguese Toast (RP 20,000) alias roti panggang ala Portugis Melaka.

Roti panggangnya enak juga, simple banget dengan butter tebal di bagian dalamnya. Rotinya pun roti yang berwarna coklat yang crunchy di pinggir namun lembut di tengah. Sementara roti canai nya pun gurih dengan kuah kari yang lezat. Baru 5 menit udah abis itu roti canai di meja hehe

Wan tan Mee Soup with Prawn Wan tan
Wan Tan Mee with Prawn Wan tan
Roti Canai with Curry
Melacca Portuguese Toast


Satu lagi yang saya pesan dan langsung menjadi favorit saya sampai selalu terbayang-bayang di benak saya sampai berhari-hari yaitu .... Iced Salted Caramel Latte !! 

Oh Em Jiii ... Ini minuman enak buangettt sampai saya termimpi-mimpi terus hahaha Kalau aja Jl.Sabang itu dekat rumah saya udah saya samperin muluk kali tiap hari demi segelas Salted Caramel Latte dingin yang super duper enak ituuuhh... 

Kalau pernah cobain Salted Caramel Latte nya Starbucks yang dulu pernah keluar disini, nah ini versi lebih enaknya hihihi Paduan manis dengan rasa sedikit asin bikin saya kecanduan, soalnya versi Bangi Kopitiam ini pas bangett paduan rasanya. Saya sampai browsing dimana lagi ada Bangi Kopitiam dekat saya tinggal. Eh baru kemarenan nemu di Serpong, ketemunya juga nggak sengaja, pas lagi lewat jalan raya mau ke tol eh ngeliat plang Bangi KopiTiam. Yasalam, emang gak jodoh yaa.. karena waktu itu udah jalan pulang mau ke tol jadi udah nggak sempat mampir beli Salted Caramel Latte. 
Hiks...
Aku...
Kecanduan...


Helppp...




Selamat Ber-kuliner!
 

Places : Puncak Pass Resort & Restaurant

Tuesday, April 14, 2015

Ini post ketinggalan yang harusnya saya upload akhir tahun lalu (waks!) - as part of my Short Getaway to Puncak series - yang saya upload di blog ini sekitar akhir tahun lalu. Kalau mau mengikuti kisah liburan singkat saya ke Puncak atau mau lihat itinerary saya selama 2 hari di Puncak untuk bahan inspirasi travel kalian, bisa KLIK DISINI untuk lihat itinerary-nya sekaligus link review tempat-tempat yang saya datangi selama di Puncak.

Di itinerary saya, Puncak Pass Resort & Restaurant ini adalah tempat wisata terakhir yang kami kunjungi sebelum pulang ke Jakarta. Setelah check out dari hotel dan mampir sebentar ke Little Venice, kami melanjutkan perjalanan pulang ke arah Jakarta dan berhenti sejenak di Puncak Pass Resort & Restaurant untuk makan siang.


Sama seperti restoran Rindu Alam yang selalu bikin nostalgia, restoran Puncak Pass ini juga menjadi nostalgia tersendiri bagi saya. Dulu waktu kecil kalau diajak ortu ke Puncak pasti mampir ke Puncak Pass ini. Saya ingat jaman dulu area Puncak Pass ini masih dingin banget dan berkabut banget, tapi sekarang (mungkin karena efek pemanasan global) suasana di Puncak Pass rasanya tidak sedingin dulu. Tapi udaranya tetap terasa segar dan sejuk, apalagi kalau kita pilih duduk di bagian luar / teras.

Ya, Puncak Pass Resort & Restaurant ini sesuai namanya terdiri dari Resort (yang berupa bungalow berbagai tipe) dan Restaurant yang berada di mulut gerbang masuk. Puncak Pass ini dulu iconic banget, bisa dibilang sebagai icon nya Puncak karena terletak di area tertinggi Puncak dan sudah berdiri sejak tahun 1928.

Pertama didirikan oleh seorang meneer Belanda bernama Meneer Colijn sebagai sebuah restoran dengan 4 buah bungalow. Kemudian tempat ini berganti kepemilikan dan namanya pun berubah menjadi Puncak Pass. Setelah itu tempat ini pun berkembang dengan menambah jumlah bungalow dan kamar untuk menginap sehingga seperti sekarang ini.


Restorannya sendiri masih sama seperti dulu ketika waktu kecil saya sering dibawa kesini oleh orangtua saya. Mungkin ada sedikit perubahan seperti pada atap teras namun secara keseluruhan tempat ini masih terlihat sama, dan mudah-mudahan pihak manajemen akan terus mempertahankan warisan tempo doeloe yang menjadi salah satu daya tarik di tempat ini.

Area restoran terdiri dari :
(1) Area outdoor / teras dengan pemandangan terbuka ke arah bukit dan kota Puncak di bawah sana,
(2) Area indoor Lantai 1 yang sejajar dengan area teras (yang lebih hangat dengan interior serba kayu lengkap dengan sebuah perapian besar),
(3) Area indoor Lantai Dasar yang terletak satu lantai di bawah lantai 1, lengkap dengan jendela-jendela besar yang memberikan pemandangan indah dan kursi-kursi kayu hangat yang bikin betah.

(view dari bagian teras/outdoor)
(bagian teras/outdoor)
(view dari area indoor lt.1)
(area indoor Lt.1)
(area indoor Lt.1 - perfect for afternoon coffee/tea)
(area indoor Lt.Dasar)

Waktu itu kami memilih untuk makan di area indoor lantai 1 karena kebetulan ada spot kosong tepat di sebelah jendela. Dari balik jendela besar kami bisa melihat pemandangan Puncak yang berbukit-bukit hijau dengan kepadatan kota di bawah sana. Dari jendela tersebut juga masih terlihat genteng jadul yang digunakan restoran ini masih sama persis seperti yang saya ingat dulu. Benar-benar brings back memories... (*OhI'mSoOld*).

Hubby K memesan paket komplit nasi timbel, sementara saya si gila pizza tergoda dengan pilihan pizza-nya yang termasuk salah satu yang direkomendasi di buku menu-nya. Tak lupa kami pun memesan salah satu menu andalan Puncak Pass Restaurant yang sudah beken dari jaman dulu yaitu: Poffertjes!

Paket nasi timbel porsinya lumayan besar, berhasil bikin kenyang hubby. Pizza-nya juga sangat menggugah selera dan rasanya enak, pas di lidah saya. Poffertjes nya jangan ditanya lagi, rasanya saya pengen nambah kalau saat itu belum kekenyangan banget hehe

(hubby & nasi timbel nya)

Setelah selesai makan, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area Puncak Pass untuk melihat-lihat. Kebetulan sebelum memutuskan untuk menginap di Novus Giri saya juga mempertimbangkan untuk menginap di Puncak Pass ini karena terpincut oleh bungalow-nya yang seakan terinspirasi dari rumah kayu di pegunungan Eropa itu. Jadi saya penasaran pengen lihat aslinya dulu, lumayan lah itung-itung survey tempat dulu hehe

Puncak Pass Resort memiliki berbagai varian tipe kamar atau bungalow/villa yang tersebar di area nya yang luas dan berbukit-bukit. Ada yang tipe kamar hotel yang letaknya kalau tidak salah menyatu dengan restoran / bangunan utama. Tipe kamar hotel ini sudah direnovasi jadi nggak perlu takut suasana jadul, konsep nya udah modern banget (bisa lihat di website nya disini). Ada pula kamar yang dilengkapi teras balkon dimana kita bisa keluar ke balkon dan menghirup udara segar.

Kemudian ada tipe kamar bungalow yang terdiri dari kamar bungalow deluxe dengan teras kecil di depan pintu kamar. Ada juga tipe bungalow executive, jadi kamarnya lebih besar/panjang dan fasilitasnya lebih lengkap dengan ruang duduk kecil di dalamnya. Selain itu juga ada tipe family bungalow yang tentunya lebih besar dengan dua kamar tidur dan area makan. Untuk semua tipe bungalow memiliki perapian kecil di dalam ruangan.


Terakhir adalah tipe Bungalow Suite yang juga terdiri dari beberapa tipe, diantaranya adalah tipe Bungalow Studio Suite yang diperuntukkan untuk keluarga karena terdiri dari dua kamar tidur dan dua kamar mandi. Untuk keluarga yang lebih besar ada tipe Bungalow Family Suite dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi.

Saya paling naksir sih sama yang bungalow bergaya rumah jadul ala rumah-rumah di pegunungan eropa seperti foto di bawah ini nih hehe Soalnya unik banget sih dan kebetulan saya seneng yang klasik-klasik gitu ...


Kelemahannya mungkin letak kolam renang nya yang agak jauh di bawah, jadi untuk sebagian kamar kalau mau ke kolam renang musti jalan dulu agak jauh. Sementara  untuk kelebihannya, selain posisi resort yang berada di titik atas area Puncak dengan suasana yang dingin, juga pemandangannya yang indah ke arah bawah pegunungan. Ditambah area sekeliling resort yang sangat hijau dan rimbun dengan tanaman dan pepohonan, rasanya berjalan pagi atau jalan kaki sore-sore mengelilingi resort akan sangat terasa menyenangkan.

Untuk informasi lebih detil dan lebih lengkap mengenai rate kamar dan lain-lain silakan mengunjungi website resmi-nya disini ya, karena kemarin saya nggak nanya-nanya sama orang hotel melainkan hanya jalan muter-muter resort aja untuk tau suasananya.

Overall, in the future saya punya rencana untuk menginap disini karena suasana resortnya yang asri dan menyejukkan. Eh tapi, barusan saya lihat di website-nya kok sepertinya resort-nya akan direnovasi ya? huhuhu... Semoga setelah di-renov, bungalow jadul favorit saya masih tetap dipertahankan...

Oya, untuk restorannya sih udah pasti saya rekomen banget :) Kalau belum pernah kesini kudu wajib harus mampir, karena tempat ini iconic banget hehe Harga makanannya pun masih lumayan terjangkau lah, apalagi kalau cuma ingin mencicipi poffertjes nya sambil minum teh hangat di teras restoran :)

Selamat jalan-jalan ya !




Puncak Pass Resort
Jl. Raya Puncak Km 90 Po Box 18,
Sindanglaya, Cianjur 43253,
West Java – Indonesia.
Phone (0263) 512503 / 512504




Dapet salam dari si gadis garis-garis :)




Untuk melihat tempat apa saja yang saya kunjungi selama 2 days Puncak Getaway, 
klik DISINI.



Happy Vacation-ing!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS